Mengungkap Rahasia Ajaran Syekh Siti Jenar
Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar
Selama ini, syahadat umumnya hanya dipahami sebagai bentuk mengucapkan
kata “Asyhadu an la ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad al-rasul
Allah”. Dan karena hanya pengucapan, wajar jika tidak memiliki pengaruh
apa-apa terhadap mental manusia. Siapapun dapat mengucapkannya, walau
kebanyakkan tidak memahaminya. Padahal makna sesungguhnya bahwa syahadat
adalah “kesaksian” bukan “pengucapan” kalimat yang menyatakan bahwa ia
telah bersaksi.
Ketika kita mengucapkan kata “Allah”, maka kata ini harus hadir dan
lahir dari keyakinan yang mendalam. Pada saat pengucapan, kita harus
yakin bahwa Allah “ada” pada diri nabi-Nya, dan bahwa setiap diri kita
mampu membawa peran nabi tersebut. Dalam ma’rifat, nabi dan kenabian
sebagai suatu hal yang selalu hidup. Dan ketika person nabi terakhir
diberi label “Muhammad”, maka ia adalah langsung dari nur dan ruh
Muhammad, dan menyandang nama spiritual sebagai “Ahmad”. Dan ketika kata
“Ahmad” disebutkan, Nabi Muhammad sering mengemukakan bahwa “ana Ahmad
bila mim” (aku adalah Ahmad yang tanpa mim), yakni “Ahad”. Ketika suku
bangsa dzahir “arab” disebutkan, beliau sering mengemukakan “ana ‘arabun
bila “Ain”, (aku adalah “Arab tanpa ‘Ain), yakni “Rabb”. Inilah
kesaksian itu, atau syahadat.
Kalau kita membayangkan nabi secara fisikal maka kita akan menghayalkan
tentang nabi. Nah, pada saat Allah kita rasakan hadir atau bersemayam
dalam diri Nabi yang berada di kedalaman lubuk hati kita, maka
terlepaslah ucapan “Muhammad al-Rasul Allah” sebagai kesaksian. Lalu
kesaksian ini kita lepaskan ke dalamDzat Allah. Sehingga kemudian
tercipta apa yang disebut sebagai “Tunggal ing Allah hiya kang amuji
hiya kang pimuji”, kemanunggalan dengan Allah sehingga baik yang memuji
dan yang dipuji tidak dapat dipisahkan.
Pada konteks syahadat yang seperti itulah kemudian lahir ajaran tentang
“wirid sasahidan” dari Syekh Siti Jenar, dalam bentuk pengucapan hati
sebagai berikut (Sholikhin: 2004, 182-183)
Artinya:
Aku bersaksi di hadapan Dzat-ku sendiri
Sesungguhnya tiada tuhan selain Aku
Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad itu utusan-Ku
Sesungguhnya yang disebut Allah itu badan-Ku
Rasul itu rasa-Ku
Muhammad itu cahaya-Ku
Akulah yang hidup tidak terkena kematian
Akulah yang senantiasa ingat tanpa tersentuh lupa
Akulah yang kekal tanpa terkena perubahan di segala keadaan
Akulah yang selalu mengawasi dan tidak ada sesuatupun yang luput dari pengawasan-Ku
Akulah yang maha kuasa, yang bijaksana, tiada kekurangan dalam pengertian
Byar
Sempurna terang benderang
Tidak terasa apa-apa
Tidak kelihatan apa-apa
Hanya aku yang meliputi seluruh alam
Dengan kodrat-Ku
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa kesaksian tersebut diperoleh
berdasarkan lelaku. Maka setelah lahirnya kesaksian tersebut juga harus
disertai dengan lelaku pula. Yaitu diikuti dengan semedi atau dzikir
rasa sehingga kemudian dapat mengalami mati dalam hidup dan hidup dalam
mati. Dzikir seperti ini dilakukan dengan meng-heneng-kan diri dan
mengheningkan cipta serta karsa sehingga kembali tercipta kesatuan hati,
pikiran dan rasa hidup. Hal ini dilakukan dengan menyatukan
pancaindera, memejamkan mata dan mengarahkannya ke pucuk hidung
(pucuking ghrana), sambil menyatukan denyut jantung, harus diatur pula
pernapasan yang masuk dan keluar jangan sampai tumpang tindih.
Biasanya praktik sasahidan ini akan berujung pada bercampurnya rasa hati
dan hilangnya segenap perasaan. Kalau sudah mencapai kondisi ini, maka
harus diturunkan ke dalam jiwa dan menyebar ke seluruh sel-sel dan
syaraf tubuh. Sehingga akan tercapailah ketiadaan rasa apapun dan akan
memunculkan sikap ke-waskitha-an (eling lan waspadha).
Dengan demikian wajar jika pada kesimpulannya tentang makna syahadat,
Syekh Siti Jenar memberikan makna syahadat sebagai etos gerak, etos
kerja yang positif, progresif, dan aktif. Syekh siti jenar mengemukakan
bahwa syahadat tauhid dan syahadat rasul mengandung makna jatuhnya rasa
(menjadi etos), kesejatian rasa (unsur motorik), bertemunya rasa (ide
aktif dan kreatif), hasil karya yang maujud serta dampak terhadap
kesejatian kehidupan (Sholikhin: 2004, 187). Itulah makna syahadat yang
sesungguhnya dari sang insan kamil.
Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar
2. Sholat
“Peliharalah shalatmu dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam
shalat) yang khusyuk” (QS Al. Baqarah/ 2:238). Ini adalah penegasan dari
Allah tentang kewajiban dan keharusan memelihara shalat, baik segi
dzahir maupun batin dengan titik tekan “khusyuk”, kondisi batin yang
mantap.
Secara lahir, shalat dilakukan dengan berdiri, membaca Al-Fatihah,
sujud, duduk dsb. Kesemuanya melibatkan keseluruhan anggota badan.
Inilah shalat jasmani dan fisikal. Karena semua gerakan badan berlaku
dalam semua shalat, maka dalam ayat tersebut disebut shalawaati (segala
shalat) yang berarti jamak. Dan ini menjadi bagian pertama, yakni bagian
lahiriah.
Bagian kedua adalah tentang shalat wustha, yaitu yang secara sufistik
adalah shalat hati. Wustha dapat diartikan pertengahan atau
tengah-tengah. Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”,
maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan shalat ini
adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak
di tengah-tengah, antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas
dan bawah, serta antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin
pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada diantara dua jari Allah,
dimana Allah membolak-balikkannya ke mana saja yang ia kehendaki. Maksud
dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang Menghukum
dan Meng-adzab dengan sifat Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang
Lemah Lembut.
Sholat dan ibadah yang sebenarnya adalah sholat serta ibadahnya hati,
kondisi khusyu’ menghadapi kehidupan. Bila hati lalai dan tidak khusyuk,
maka jasmaniahnya akan berantakan. Sehingga kalau ini terjadi,
kedamaian yang didambakan akan hancur pula. Apalagi shalat jasmani hanya
bisa dicapai dengan hati yang khusyuk. Kalau hati tidak khusyuk, serta
tidak dapat konsentrasi pada arah yang dituju dari shalat, maka hal itu
tidak bisa disebut shalat. Juga tidak akan dapat dipahami apa yang
diucapkan, dan tentu apa pun yang dilakukan dengan bacaan dan gerakannya
tidakakan bisa mengantarkan sampai kepada Allah.
Urgensi ke-khusyuk-an ini berhubungan dengan inti shalat sebagai doa.
Doa atau munajat, bukan sekedar permintaan hamba kepada Allah, akan
tetapi berarti juga sebagai arena pertemuan. Dan tempat pertemuan itu
adalah di dalam hati. Maka jika hati tertutup di dalam shalat, tidak
peduli akan makna shalat rohani, shalat yang dilakukan tersebut tidak
akan memberikan manfaat apa pun. Sebab semua yang dilakukan jasmaninya
sangat tergantung kepada hati sebagai Dzat untuk badan. “Ingatlah bahwa
dalam tubuh itu ada sekeping daging, apabila daging itu baik, baiklah
seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusak, rusak pulalah semua tubuh itu.
Daging itu adalah hati. “ (sabda Rasulullah)
Ke-khusyuk-an hati akan membawa sholat yang menghasilkan kesehatan hati.
Shalat khusyuk akan menjadi obat bagi hati yang rusak dan jahat serta
berpenyakit. Maka shalat yang baik haruslah dengan hati yang sehat dan
baik pula, bukan dengan hati yang rusak, yakni hati yang tidak dapat
hadir kepada Allah.
Jika shalat dari sisi jasmaniah-fisik memiliki keterbatasan dalam semua
hal, baik tempat, waktu, kesucian badan, pakaian, dsb, maka shalat dari
segi rohaniah tidak terbatas dan tidak dilaksanakan pada waktu-waktu
tertentu. Shalat secara rohaniah tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Shalat ini selalu dilakukan terus menerus sejak di dunia hingga akhirat.
Masjid untuk shalat rohani terletak dalam hati. Jamaahnya terdiri dari
anggota-anggota batin atau daya-daya rohaniah yang ber-dzikir dan
membaca al-asma’ al-husna dalam bahasa alam rohaniah. Imam dalam shalat
rohani adalah kemauan atau keinginan (niat) yang kuat. Dan kiblatnya
adalah Allah. Inilah shalat tarek dan sholat daim yang diajarkan oleh
Syekh Siti Jenar.
Shalat yang demikian itu hanya dapat dilakukan oleh hati yang ikhlas,
hati yang tidak tidur, dan hati yang tidak mati. Hati dan jiwa seperti
itu kekal dan selalu beribadah atau shalat ketika jasmaninya sedang
tertidur atau terjaga. Ibadah hati dilakukan sepanjang hayat, dan
sepanjang hayatnya adalah untuk beribadah.
Inilah ibadah orang yang sudah mencapai ma’rifatullah, tempat penyucian
tertinggi. Di tempat itu, ia ada tanpa dirinya. Karena dirinya telah
fana’, telah hilang lenyap. Ingatannya yang teguh dan suci tercurah
hanya kepada Allah.
Namun tentu saja ini berlaku setelah semua shalat-shalat fardhu dan
nawafil dilaksanakan secara konsisten. Jadi, tempat suci tersebut baru
bisa dijangkau setelah semua shalat syari’at itu sempurna, lalu masuk ke
dalam shalat thariqat dan ma’rifat. Maka tidak bisa diartikan bahwa
jika sudah berada di tingkatan ini, lalu tidak lagi melakukan shalat
sama sekali. Bahkan sering dalam shalat itulah mereka mengalami fana’
dalam munajat-nya sehingga ibadah yang dilakukannya itu menyita banyak
waktu. Hanya saja bentuk shalat dalam arti gerakan dan bacaan tertentu
sudah tidak mengikat lagi. Shalat ditegakkan atas kemerdekaan rohani
dalam menempuh laku menuju Allah.
Pada tingkatan ini tidak ada lagi bacaan di mulut. Tidak ada lagi
gerakan berdiri, ruku’, sujud, dsb. Dia telah berbincang dengan Allah
sebagaimana firman-Nya “Hanya Engkau yang kami sembah, dan hanya
Engkaulah kami memohon pertolongan” (QS Al-Fatihah/1: 5)
Firman tersebut menunjukkan betapa tingginya kesadaran insan kamil,
yakni mereka yang telah melalui beberapa tingkatan alam rasa dan
pengalaman rohani sehingga tenggelam dalam lautan tauhid atau Ke-Esaan
Allah dan ber”padu” dengan-Nya. Nikmat yang mereka rasakan saat itu
tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Hanya orang yang mengalaminya
yang dapat mengalaminya yang dapat mengartikan kenikmatan tersebut.
Namun mereka pun sering tidak mau mengungkapkannya. Tidak ingin
membocorkan rahasia Ketuhanan yang tersimpan di dalam lubuk hatinya oleh
Allah.
Hal tersebut sama halnya dengan hakikat takbir, yang bukan semata-mata
ucapan “Allahu Akbar”. Takbir merupakan pengucapan yang lahir dari
firman Allah yang memuji kebesaran Dzat-Nya. Jadi, takbir sebenarnya
merupakan suara Tuhan yang meminjam mulut hamba-Nya. Bukan hasil dari
dorongan emosional. Karenanya, takbir sejati adalah menyatakan kebesaran
Allah dari af’al Allah sendiri. Takbir sejati merupakan penghayatan
diri terhadap sifat Allah. Dan takbir sejati adalah penyebutan nama-Nya
yang lahir dari kehendak-Nya semata. Dengan takbir yang demikian itu
maka yang lain menjadi sangat kecil, dan menjadi tidak ada. Yang ada
hanya Allah. Ke mana pun kita menghadap yang ada hanya Wajah Allah.
Maka setelah berpadu ibadah lahir dan batin secara harmonis, sempurnalah
ibadah seseorang. Hati dan ruh seperti tergambar itu membawanya masuk
ke Hadirat Allah. Hatinya ber”padu” mesra dengan Allah. Dalam alam nyata
ia menjadi hamba yang wara’ dan ‘alim. Dalam alam rohani ia menjadi
ahli ma’rifah yang telah sampai pada peringkat kesempurnaan mengenal
Allah. Inilah makna bahwa shalat adalah perjalanan menuju Allah.
Hasilnya adalah bahwa shalat yang dilaksanakan mencegah perilaku yang
keji dan munkar. Sebaliknya menghasilkankehalusan dan kemuliaan budi dan
perilaku.
Jika shalat telah dihilangkan makna hakikatnya, hanya menjadi sekedar
pelaksanaan hukum fikih sebagaimana tampak pada kebanyakan manusia
dewasa ini, maka shalat tersebut telah kehilangan makna fungsionalnya.
Hal inilah yang telah mendatangkan kritik tajam dari Syekh Siti Jenar.
Syahadat, sholat, puasa semua tanpa makna
Termasuk zakat dan haji ke Mekah
Itu semua telah menjadi palsu
Tidak bisa dijadikan anutan
Hanya menghasilkan kerusakan di bumi
Membohongi makhluk lain
Hanya ingin surga kelak
Orang bodoh mengikuti para wali
Sementara kenyataannya sama saja belum mencapai tahapan hening
Syekh Siti Jenar mengkritik pelaksanaan hukum fikih pada masa walisanga
karena ibadah-ibadah formal tersebut telah kehilangan makna dan tujuan,
kehilangan arti, dan hikmah kehidupan. Hal itu menjadikan semua ajaran
agama yang diajarkan oleh para ulama ketika itu menjadi kebohongan yang
meninabobokkan publik dengan hanya menginginkan surga kelak yang belum
ada kenyataanya.
Oleh karenanya Syekh Siti Jenar mengajarkan praktik shalat fungsional,
berbeda dengan para wali pada masanya. Shalat tarek sebagai bentuk
ketaatan syari’at, dan shalat daim sebagai shalat yang tertanam dalam
jiwa, dan mewarnai seluruh pekerti kehidupan. Seseorang yang
melaksanakan pekerjaan profesionalnya secara benar, disiplin, ikhlas,
dan karena melaksanakan fungsi lillahi ta’ala, maka orang tersebut
disebut melaksanakan shalat. Itulah bagian dari shalat da’im.
Namun ternyata, ajaran shalat fungsional tersebut tidak hanya menjadi
milik Syekh Siti Jenar. Di dalam Suluk Wujil bait 12-13, sebuah naskah
yang ditulis pada awal abad ke-17, yang disebut-sebut sebagai warisan
ajaran Sunan Bonang, menyebutkan ajaran shalat sebagai berikut:
Unggulnya diri itu mengetahui hakikat shalat, sembah dan pujian. Shalat
yang sebenarnya bukan mengerjakan shalat Isya dan maghrib. Itu namanya
sembahyang. Apabila itu disebut shalat, maka hanyalah hiasan dari shalat
daim. Hanyalah tata krama . manakah yang disebut shalat yang
sesungguhnya itu? Janganlah menyembah jikalau tidak mengetahui siapa
yang disembah. Akibatnya dikalahkan oleh martabat hidupmu. Jika didunia
ini engkau tidak mengetahui siapa yang disembah, maka engkau seperti
menyumpit burung. Pelurunya hanya disebarkan, tapi burungnya tak ada
yang terkena tembakan. Akibatnya cuma menyembah ketiadaan, suatu
sesembahan yang sia-sia.
Maka jelaslah bahwa shalat lima waktu yang hanya dilakukan berdasarkan
ukuran formalitas, hanya sebentuk tata krama, aturan keberagamaan.
Sementara shalat daim yang merupakan shalat yang sebenarnya. Yakni,
kesadaran total akan kehadiran dan keberadaan Hyang Maha Agung di dalam
dirinya, dan dia merasakan dirinya sirna. Sehingga semua tingkah lakunya
adalah shalat. Diam, bicara, dan semua gerak tubuhnya merupakan shalat.
Wudhu, membuang air besar, makan dan sebagainya adalah tindakan
sembahyang. Inilah hakikat dari niat sejati dan pujian yang tiada putus.
Ya, shalat yang mampu membawa pelakunya untuk menebar kekejian dan
ke-mungkar-an. Mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin.
Ketauhidan Syekh Siti Jenar
SEMBILAN
“Sesungguhnyalah, Lapal Allah yaitu kesaksian akan Allah, yang tanpa
rupa dan tiada tampak, membingungkan orang, karena diragukan
kebenarannya. Dia tidak mengetahui akan diri pribadinya yang sejati,
sehingga ia menjadi bingung. Sesungguhnya nama Allah itu untuk menyebut
wakil-Nya, diucapkan untuk menyatakan yang dipuja dan menyatakan suatu
janji. Nama itu ditumbuhkan menjadi kalimat yang diucapkan: “Muhammad
Rasulullah”. Padahal sifat kafir berwatak jisim, yang akan membusuk,
hancur lebur bercampur tanah.” “Lain jika kita sejiwa dengan Zat Yang
Maha Luhur. Ia gagah berani, naha sakti dalam syarak, menjelajahi alam
semesta. Dia itu Pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang
bersifat wahdaniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia
dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sumpitan, bukan budi
bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari manapun, bukan pula kehendak
tanpa tujuan.” “Dia itu yang bersatu padu menjadi wujud saya. Tiada
susah payah, kodrat dan kehendak-Nya, pergi ke mana saja tiada haus,
tiada lelah tanpa penderitaan dan tiada lapar. Kekuasan-Nya dan
kemampuan-Nya tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dari
keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya
kearif-bijaksanaan tanpa saya ketahui keluar dan masuk-Nya, tahu-tahu
saya menjumpai Ia sudah ada disana”. (Serat Syaikh Siti Jenar Ki
Sastrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 45-48).
Pernyataan di atas adalah tafsir sederhana dari sasahidan yang menjadi
intisari ajaran Syekh Siti Jenar, dan landasan mistik teologi
kemanunggalan. Kalimah syahadat yang hanya diucapkan dengan lisan dan
hanya dihiasi dengan perangkat kerja fisik (pelaksanaan fiqih Islam
dengan tanpa aplikasi spiritual), hakikatnya adalah kebohongan.
Pelaksanaan aspek fisik keagamaan yang tidak disertai dengan implikasi
kemanunggalan roh, sebenarnya jiwa orang itu mencuri, yakni mencuri dari
perhatiannya kepada aspek Allah dalam diri. Itulah sebenar-benarnya
munafik dalam tinjauan batin, dan fasik dalam kacamata lahir. Sebab
manusia sebagai khalifah-Nya adalah cermin Ilahiyah yang harus menampak
kepada seluruh alam. Sebagai alatnya adalah kemanunggalan wujudiyah
sebagaimana terdapat dalam Sasahidan. Terdapat kesatupaduan antara
Allah, Rasul dan manusia. Masing-masing bukanlah sesuatu yang saling
asing mengasingkan.
SEPULUH.
“Rahasia kesadaran kesejatian kehidupan, ya ingsun ini kesejatian hidup,
engkau sejatinnya Allah, ya ingsun sejatinya Allah; yakni wujud (yang
berbentuk) itu sejatinya Allah, sir (rahsa=rahasia) itu Rasulullah,
lisan (pangucap) itu Allah, jasad Allah badan putih tanpa darah, sir
Allah, rasa Allah, rahasia kesejatian Allah, ya ingsun (aku) ini
sejatinya Allah.” (Wejangan Walisanga: hlm. 5).
Subtansi dari ungkapan spiritual tersebut adalah bahwa kesejatian hidup,
rahasia kehidupan hanya ada pada pengalaman kemanunggalan antara
kawula-Gusti. Dan dalam tataran atau ukuran orang ‘awam hal itu bisa
diraih dengan memperhatikan uraian dan wejangan Syekh Siti Jenar tentang
“Shalat Tarek Limang Waktu”.
Hakekat Rukun Islam Menurut Syekh Siti Jenar
4.Zakat
Syekh Siti Jenar memberikan makna aplikatif zakat sebagai sikap menolong
orang lain dari penderitaan dan kekurangan. Menolong orang lain agar
dapat hidup, menikmati hidup, sekaligus mampu bereksis menjalani
kehidupan. Syekh Siti Jenar sendiri bertani yang merupakan pekerjaan
favorit pada masa hidupnya. Namun tidak semua masyarakat petani berhasil
hidupnya sebagaimana pula tidak selalu berhasil baik dari panennya.
Yang tidak berhasil panennya tentu mengalami kekurangan bahkan
kelaparan. Syekh Siti Jenar selalu membantu mereka yang kurang berhasil
tadi dengan memberikan sebagian hasil panennya dari tanahnya yang luas
kepada mereka itu. Inilah yang disebut sebagai zakat secara fungsional.
Suka memberi adalah sifat-Nya, dan Dia senang melihat hamba-Nya
mencontoh sifat suka memberi yang menjadi sifat-Nya itu. Perbendaharaan
Tuhan tidak akan kosong, dan bila Allah memberi Dia akan memberi dengan
tangan-Nya yang terbuka. “Barang siapa yang datang membawa amal yang
baik, maka ia akan mendapat pahala sebanyak sepuluh kali lipat dari
kita, dan barangsiapa yang datang membawa perbuatan yang jahat, dia
tidak mendapatkan pembalasannya, melainkan yang seimbang dengan
kejahatannya, sedangkan mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (QS
Al-An’am/6: 160)
Sebagaimana makna katanya, zakat memiliki kegunaan sebagai arena
pembersihan harta dan jiwa. Terutama membersihkan dari keegoan, sehingga
tujuan zakat rohani menjadi tercapai. “Siapakah yang mau meminjamkan
kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakan balasan
pinjaman itu untuknya, dia akan mendapatkan pahala yang banyak”.(QS Al
Hadid/57:11). Inilah hakikat pahala zakat, baik jasmani maupun rohani.
Sehingga terhadap harta pinjaman dan titipan dari Allah, kita melakukan
penyucian diri dengan mengeluarkan zakat, bersedekah, serta berbuat amal
jariyah. Dalam hal inilah, patokan kita bukan sekedar patokan minimal
2,5%, namun bisa lebih dari itu. Bahkan para sufi terkadang berzakat
100% dari seluruh harta yang diterimanya. Selain ia membersihkan dari
daki-daki dunia, ia juga memanjangkan umur dan menyelamatkan diri dari
siksa sengsara akhirat. Betapa beruntungnya para pemilik harta yang
menyedekahkan hartanya sehingga ia mendapatkan ganjaran yang tidak dapat
ditebus dengan uang nantinya. “Mereka yang menyedekahkan hartanya
kepada orang lain, hartanya tidak akan berkurang. Bahkan, harta itu akan
bertambah, dan bertambah.” (Sabda Nabi).
Jadi, pemahaman sufi atas harta jelas. Harta dan semua yang ada
adalah milik Tuhan. Manusia diberi limpahan-Nya agar digunakan sebagai
alat bagi perjalanan rohaninya menuju Tuhan. “Kamu tidak akan sampai
kepada ketaatan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta
yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan itu, maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran/3:92). Zakat bagi para
sufi merupakan langkah untuk memberikan “kado” atau hadiah terindah
untuk Tuhan, sekaligus untuk manusia dengan disertai kebersihan niat
jiwa, dan kesucian hati. Tegasnya, sebagaimana dikemukakan Syekh Siti
Jenar, zakat adalah kesediaan untuk menolong manusia yang kekurangan,
baik harta fisik maupun harta rohani sehingga mereka terhindar dari
kemiskinan, kekurangan, kelaparan fisik maupun spiritual. Betapa
indahnya dunia jika dihuni manusia sufi seperti ini.
5.Haji
Haji menurut Islam-Jawa yang sebagian merupakan warisan ajaran Syekh
Siti Jenar tidak lain adalah olah spiritual. Karena kalau hanya sekedar
mengunjungi Makkah dalam arti fisik, bagi orang Islam-Jawa itu cukup
dengan “ngeraga sukma”. Dalam arti seseorang mampu pergi ke Makkah kapan
saja dia mau. Oleh karenanya, bagi mereka, Makkah letaknya bukanlah
sebatas geografis, yakni terletak di Dataran Arab Saudi. Bagi
Muslim-Jawa, Makkah berada di dalam spirit manusia yang tidak ditempuh
dengan hanya menggunakan bekal rupiah. Hal ini dapat ditinjau dari
ungkapan dalam Suluk Wijil:
Artinya:
Maulana Maghribi berkata demikian,” Baiklah engkau kembali, yang engkau
cari tidak ada di Makkah. Makkah yang terletak di barat(Nusa Jawa) itu,
Makkah tiruan namanya. Batu yang dibuat sebagai tempat menghadap adalah
buatan Nabi Ibrahim. Jika Nusa Jawa engkau tinggalkan, akan menjadi
kafir// Tak ada yang tahu dimana Makkah yang sebenarnya. Meski ia harus
berjalan dari kecil hingga tua. Tak akan mencapai tujuan. Jika ada bekal
sampai di Makkah dan menjadi Wali, maka bekalnya sangat mahal, sukar
diperoleh. Bukan rupiah maupun dinar bekal tersebut. Tapi keberanian,
kesanggupan mati, dan sabar serta ikhlas di dunia).
Dari penuturan suluk wujil tersebut, jelas bahwa haji adalah olah
spiritual untuk mencapai keyakinan hidup yang hak, yaitu berani dan
sanggup mati dalam kebenaran, serta sabar dan ikhlas dalam hidup di
dunia. Dimana ruh masih terpenjara dalam wadaq ini. Hidup ikhlas adalah
hidup tidak terkontaminasi nafsu berebut kuasa, harta, kelezatan hidup
di dunia (Chodjim, 2002,209). Maka keikhlasan menjalani hidup menjadi
tujuan dari haji. Untuk dapat ikhlas perlu laku atau olah spiritual.
Untuk mampu memperoleh laku yang benar, juga diperlukan keberanian dan
kesanggupan memilih jalan yang diyakini benar. Sebagiannya adalah
keberanian dan kesanggupan untuk hidup bersahaja dan bersih dari segala
perbuatan yang tercela dan mungkar. Hati terbebas dari segala iri,
dengki, dendam, kesumat, kikir dan tamak. Pikiran bersih dari
keterikatan dengan kelezatan dunia. Rohani dimerdekakan, dan
keberagamaan tidak terbelenggu oleh sekedar formalitas. Dan untuk itu
semua dibutuhkan kesabaran, memiliki daya juang, dan tidak mudah
menyerah dalam upaya mencapai tujuan. Tegar dan kokoh dalam perjuangan
hidup yang benar, dan kemauan mempertahankan keyakinan atas kebenaran
itu.
Di balik kesabaran itu, juga tersembul kemauan menjaga harmonisme segala
hal di dunia ini. Tidak egois, tidak mau menang sendiri, tidak
menyerobot hak orang lain. tidak mempermainkan kekuasaan, tidak
melanggar hak-hak orang lain. ia selalu memperjuangkan hak hidup dengan
tanpa mengorbankan hak orang lain. ia memperjuangkan haknya sekaligus
hak orang lain.
Muslim Jawa dalam beragama tidak hanya terikat pada simbol. Sehingga
termasuk Ka’bah misalnya, yang berada di Makkah hanya disebut sebagai
tiruan yang dibuat manusia. Ka’bah yang sesungguhnya tidak diketahui
letaknya karena berada di alam spiritual. Ka’bah diri berada di
kedalaman ceruk hati. Oleh karenanya kebenaran dan kejujuran tidak harus
diburu di Makkah, justru di Jawa juga menyediakan banyak ajaran
spiritual yang jika ditinggalkan untuk memburu di Makkah, malah membuat
orang Jawa akan menjadi kafir. Yakni akan kehilangan kebijaksanaan
tradisional dan spiritualitas yang genuine dari kedalaman dirinya
sendiri. Untuk menciptakan kesejahteraan, ketentraman, dan untuk mampu
mendekati Tuhan, ternyata memang seharusnya tidak boleh meninggalkan
kebijaksanaan yang berakar pada tradisi ritual dari bangsa lain. Allah
menyediakan semua tempat dengan ragam hikmah (wisdom)-nya masing-masing.
Untuk itulah konsep keberbedaan harus disatukan dalam kerangka
lita’aruf (saling mengenal). Mereka yang mampu mengenal hikmah yang
beragam itu disebut Allah sebagai mereka yang paling sanggup mencapai
ketakwaan.
Wallahualam.
http://vilaputih.wordpress.com